Thursday, October 23, 2003

LOVE IS...



Lilin di depanku masih terasa hangatnya. Baru beberapa detik padam. Aku mencoba menyentuh ujungnya dengan telunjuk. Panas! Lilin ini sedikit mencair, lumer di tanganku, tak lama membeku. Kudekatkan ke wajah. Warnanya putih. Padahal lilin yang tadi kunyalakan berwarna biru,... sebiru hatiku!
Kugesekkan telunjuk dengan ibu jari. Aku memandangi serpihan lilin yang sudah membeku itu jatuh di udara. Telunjukku bersih, tapi serpihan lilin itu masih tersisa di lantai bercampur dengan debu, dan mungkin sebentar lagi berteman dengan semut. Aku terus mengamatinya.
Posisi tidurku kini telungkup, mataku terus mengamati lantai. Serpihan itu sangat berharga, bagian dari lilin ulang tahunku. Hmm... sekitar 6 menit yang lalu, batinku sambil melirik jam di dinding. Sekarang jam 00.06 WIB.

Aku merayakan ulang tahun kali ini sendirian. Berbeda dengan tahun-tahun lalu, aku merayakannya bersama Anand. Ah,… kenapa menyebut nama itu saja terasa menyakitkan?
Apakah r i n d u itu ? Kenapa hidup di jantungku?
Biasanya jam segini aku mendefinisikan cinta dengannya lewat telepon. Konyol memang, tapi aku dan Anand selalu menyukainya dan telah menjadi kebiasaan yang mengasyikan selama 3 tahun ini. Sebuah ‘pesta’ yang menyenangkan! Sekarang aku mulai merindukannya. Ah, mataku mulai berkaca. Aku kesepian.
Apa arti cinta itu sekarang? Aku tidak punya seseorang untuk mencari maknanya. Aku sendirian ditemani lilin yang membeku kedinginan, persis seperti hatiku. Apa kabar Anand sekarang? Aku kehilangan warna, pelangiku terbang mengangkasa. Mengapa aku harus kehilangan? Dan mengapa aku begitu merindukan?
'Aku Orpheus,' kata Anand, setahun yang lalu waktu menelponku, di tanggal yang sama, di hari ulang tahunku.
'Dan aku Eurydice,'jawabku tak mau kalah. Kami tertawa.
'Jangan, aku akan kehilangan kamu nantinya,' balasnya. Aku tersenyum.
'Tapi rasanya aku cukup bahagia melihat kamu berjuang untukku, menjadi pahlawan yang memperjuangkanku.' Tepat! Jawabanku membuatnya terdiam.
'Tapi tetap saja aku akan sendirian, dan aku tidak bisa menghadapi hidup tanpamu, ' kilahnya kemudian. Dasar perayu ulung!
'Aku akan pergi ke dimensi waktu, ' lanjutnya.
'Untuk apa?'
'Meminta Jacques Offenbach merubah ending-nya, 'jawabnya.
'Kamu tidak akan berani,' balasku.
'Kamu mau bukti? 'tantang Anand. Dan kini dia telah membuktikannya. Sekarang pasti dia sedang berunding dengan Jacques Offenbach di alam sana. Ya… Anand telah meninggalkan semua mimpinya untuk selama-lamanya…, meninggalkan aku sendirian tanpanya.
Ah, aku mendesah panjang. Aku memandangi langit-langit. Foto Anand masih menjadi penghias mejaku. Kenapa Tuhan selalu mengambil orang yang baik,.. kenapa harus Anandku… kenapa? Keluhku.
Mataku berkaca! Rasanya sudah lama sekali aku tidak menangis. Sudah aku habiskan di makam Anand tiga bulan yang lalu. Apa makna cinta itu sekarang, Nand? Bisikku sedih. Dulu, kamu suka mengutip sajak Napoleon.
'Napoleon bisa bersajak?' tanyaku tak percaya.
'Kamu mau dengar?' aku mengangguk. Dan Anand mulai merayu…
'Bagiku, mencintaimu, membuatmu bahagia, tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginanmu adalah takdir dan tujuan hidupku'. Aku tak bisa menahan tawa. Anand terdiam di ujung sana.
'Maaf, 'aku memperbaiki sikap. Anand tetap diam.
'Jangan remehkan orang yang jatuh cinta, ” kata Anand kemudian.
' Tidak, tidak akan. Karena aku juga punya sajak yang sama bodohnya,' jawabku mencoba memperbaiki kesalahan.
' Coba, aku mau dengar,' tantangnya. Aku kelabakan! Padahal aku hanya ingin memperbaiki keadaan. Sajak siapa? Aku mulai membedah ingatanku.
' Elizabeth Barrett Browning!' jawabku spontan. Sajak mana dari Elizabeth yang aku ingat? Aku makin panik.
'Bagaimana bunyinya?' aku benar-benar harus minta tolong ingatanku untuk menyelamatkan aku. Aku membiarkan diriku mengalir…
'Aku mencintaimu dengan nafas dan air mata yang ada pada seluruh hidupku… ' Anand gantian terkekeh. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya ditertawakan. Satu-satu! Rutukku dalam hati.
'Tahu matematika cinta? ' tanyanya. Aku mengernyitkan dahi.
' Apa? Memang ada? ”
'Ada, kata Ninon De L’enclos. ' Entah berapa banyak referensi yang dibacanya untuk mengumpulkan semua definisi cinta ini.
'Mana? ' tanyaku tak sabar.
' Hmm… satu ditambah satu sama dengan segalanya, dan dua kurang satu,… '
'Sama dengan tidak ada!' potongku dengan cepat.
' Kok kamu tahu sih? ' gerutunya. Aku tertawa.
'Tahu dong… bahkan aku tahu apa yang ingin kamu katakan sebelum kamu mengatakannya, '
Lalu sunyi. Kami sama-sama terdiam. Aku tak sadar mengatakan hal yang begitu menyentuh hatinya.
'Aku ingin m e n i k a h i m u,… ' pelan kalimat Anand mengalun seperti desir angin, gemericik air terjun, wangi mawar, langit biru, ombak lepas di lautan, danau yang tenang,… aku melayang…
' Kenapa diam, ' pelan aku turun dari angkasa. Ah, indahnya!
'Kamu serius? ' aku menata hatiku.
'Kamu bersedia? ' mukaku merona merah. Aku mengangguk. Bodoh! Mana Anand tahu makna anggukanku. Andai dia disini, desisku dalam hati.
'Ya,… ' ujarku lirih.
'Ah… akhirnya!' jerit Anand bahagia. Aku terlonjak kaget.
'Kenapa?'tanyaku.
'Karena aku butuh waktu yang lama dan keberanian yang cukup untuk mengatakannya. Terima kasih mau menerimaku. 'Aku tak menyangka akan seberat itu.
'Hiduplah bersamaku sampai tua,… 'Anand merayu. Hatiku makin berbunga-bunga.
'Jangan diam,… ' pintanya.
'Aku ingin menikmati malam ini, Nand. Aku ingin menikmati setiap detiknya, kamu membuatku di awan. Andai kamu di sini,… ' gumamku tidak sadar.
'Aku juga berharap hal yang sama. Andai jarak dan waktu tidak memisahkan kita, ' Jakarta-Australia memang tidak dekat.
'Kapan kamu pulang, Nand?'
'Paling tidak sampai setahun lagi. Kamu masih mau sabar menungguku, kan?' Tuhan, bagaimana mungkin dua orang yang saling mencintai dipisahkan jarak yang begitu besar? Jeritku dalam hati.
'Kapanpun kamu minta,aku akan menunggumu,' janjiku kemudian.
'Akankah kamu akan selalu setia?' tanyaku kemudian.
'Kenapa kamu ragukan?' Kenapa aku menanyakan hal bodoh itu? Aku diam menelan ludah.
'Percayalah padaku,karena aku tidak akan mencintai dan tidak akan pernah mencintai wanita manapun di dunia ini kecuali dirimu,dan keinginan utamaku adalah menyatukan diriku denganmu sepanjang hari dengan ikatan yang kemudian hari akan menjadi lebih erat dan lebih dalam. ” Sajak Sir Winston Churchill mengalun fasih dari mulut Anand. Mataku mulai berkaca, aku tidak tahu sedih apa gembira yang sedang aku rasakan ini. Yang jelas aku makin melayang…… sangat tinggi menyentuh bulan…

Tapi, sekarang siapa yang akan membacakan sajak-sajak indah itu? Kuusap pipiku yang basah air mata. A N A N D ... Setiap butir darahku terpatri namanya. Setiap alunan nafasku memuja hadirnya. Setiap ruang batinku penuh gambarnya. Setiap denyut jantungku ada karenanya. Apa kabarmu disana? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu tahu apa yang sekarang aku rasakan? Apakah kamu melihat telaga ini yang mulai meluap karena merindukanmu. Kenapa kamu harus pergi? Kenapa pesawat keparat itu merenggutmu dariku??!
Ironisnya, Kamu bahkan belum mengatakan definisi cintamu sendiri…
Langitku runtuh sudah. A k u m e n a n g i s ! Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menangis lagi!
-santie-