Sunday, December 07, 2003

TERIMA KASIH PAYUNGNYA, NEAL



'Aku rindu, Nda. Aku rindu semua tentangmu. Perasaan ini semakin menggila dan seperti penyakit saja. Aku harap saat ini aku adalah Superman, maka bisa kubawa diriku terbang ke tempatmu. Stupid, ya?'
Aku menuntaskan membaca kalimat terakhir e-mail Neal yang agak lain dari biasanya, malam ini. Ah, Neal. Kata-katamu sulit kumengerti. Apa sebenarnya yang ingin kau ungkapkan? Aku mengambil nafas panjang. Aku urung membalas e-mail Neal. Aku takut salah mengartikan kalimatnya. Beri aku waktu dua atau tiga hari, putusku sambil mematikan komputer dan siap-siap tidur. Setiap kalimat di email Neal terngiang-ngiang di telingaku. Duh, kenapa sulit sekali memejamkan mata? Ah, malam ini akan menjadi sangat panjang ...

'Gimana kabar, Neal?' tanya Andin waktu aku papasan dengannya di kelas. Aku mengangkat bahu. Hanya mengangkat bahu tanpa sepatah kata. Reaksi yang sama kuberikan setiapkali teman-teman yang lain menanyakan kabar Neal hari ini. Lihat Neal, semua merindukanmu. Tapi entah kenapa aku enggan membicarakanmu. Biasanya setiapkali e-mail mu datang, aku langsung berbagi cerita dengan mereka. Teman-teman band-mu dulu masih suka meneleponku untuk menanyakan perkembanganmu disana. Mereka masih menyayangimu. Begitu pula … aku.
Aku menatap taman samping sekolah dari balik jendela kaca kelas. Sebenarnya sekarang aku sudah bisa pulang. Begitu juga beberapa teman yang lain. Tapi kali ini hujan turun deras sekali dan aku terpaksa harus berteduh di kelas kalau nggak ingin basah kuyup sampai rumah. Andai ada kamu, Neal… tentu suasananya nggak akan membosankan seperti ini, keluhku sambil membayangkan sosok Neal yang jangkung lari menembus hujan menghampiriku. Ajaib! Tiba-tiba bayanganku berujud. Sesosok tubuh jangkung berlari-lari menembus hujan menuju ke arahku. Aku mengucek-ucek mataku nggak percaya.
'Hi Nda… ' sosok basah kuyup itu menyapaku. Aku memukul jidatku sendiri. Bodohnya mengharapkan Neal tiba-tiba berada disini!
'Hi Ton,' balasku malas sambil terus menatap rintik hujan. Ternyata Tony, teman dekat Neal. Jari-jariku mulai meneruskan gambar acak yang kubuat di kaca yang mengembun.
Tony mengibas-ibaskan rambutnya yang basah. Sebagian memercik kena mukaku.
'Apa-apaan, sih?' tegurku. Aku menatap wajah Tony dengan kesal.
'Kamu melamun aja, Nda. Ingat Neal, yaaa … ' godanya. Aku tersenyum kecut. Begitu mudahkah aku ditebak? Tony duduk di dekatku, merapatkan kedua tangannya di dada lalu memandang ke luar kelas sepertiku.
'Asyik, ya kalau ada Neal. Suasananya pasti nggak garing seperti saat ini.' Aku membenarkannya dalam hati. Neal seperti matahari. Selalu ada kehangatan dan keceriaan dimanapun dia berada. Aku merasakan kehilangan yang sangat saat Neal kembali ke negaranya, Australia, karena program pertukaran pelajar yang diikutinya selesai. Padahal aku mengenalnya belum genap setahun.
'Hmm, kira-kira Neal sedang apa, ya sekarang?' gumam Tony memancingku. Aku tak bergeming. Neal sedang rindu padaku, Ton, ingin aku berkata seperti itu padanya.
'Disana sedang musim panas, Ton. Dia pasti sedang kegerahan,' jawabku sedikit bergurau. Tony tersenyum nakal.
'Wah, si muka bayi itu pasti sedang berjemur di pantai ditemani cewek-cewek bule Nda ! Wuih, senangnya jadi Neal … ' ujar Tony seenaknya. Aku berharap hujan turun makin deras sehingga aku nggak lagi mendengar celotehan Tony selanjutnya.
'Eh, Nda, tahu nggak … Neal naksir kamu, lho!' pancing Toni.
Mau nggak mau aku terpaksa membuka sumbatan kupingku.
'Ngaco kamu Ton … ' kilahku.
'Yeee … nggak percaya. Sebenarnya ini rahasia. Kamu nggak perhatiin cara Neal menatapmu saat bicara denganmu. Kamu nggak tahu, sih betapa bersemangatnya Neal waktu mencalonkanmu ikut lomba debat itu. Juga waktu anak-anak band menunjukmu jadi manager kami. Neal yang ambil suara.' Hatiku sedikit membesar mendengar bualan Tony.
'Ah, itu kan hanya perkiraanmu saja. Toh, Neal nggak pernah mengatakannya,' balasku berkilah penuh harap-harap cemas.
'Itu karena kamu dekat dengan Rio.' Plak! Aku seperti ditampar. Rio? Aku dekat dengan Rio karena memang aku ‘harus’ dekat dengan Rio. Rio adalah sepupuku yang baru saja keluar dari pusat rehabilitasi gara-gara bubuk putih maksiat itu. Jelas saja aku dekat dengan dia, karena aku diberi mandat orang tuaku dan orang tua Rio, yang juga Om dan Tanteku, untuk terus memantau dan membantu Rio mengikuti pelajaran dan kegiatan ekskul di sekolah. Makanya Rio sampai pindah sekolah, agar bisa satu SMU denganku, satu-satunya sepupunya. Memang, sih kedekatanku dengan Rio kentara banget dan banyak yang ngira aku pacaran dengan Rio. Aku sih nggak terlalu perduli dengan hal itu. lagi pula aku nggak mungkin menjelaskan kejadian yang sebenarnya ke semua orang, karena nggak baik untuk psikis Rio. Mantan pemakai, akan menjadi embel-embel di belakang nama Rio. Uh, sungguh nggak enak didengar! Jadi hanya orang tertentu saja yang tahu kondisi ini. Bahkan Neal dan Tony tak mengetahuinya, meskipun aku akrab dengan mereka dan makin akrab saat aku dipasrahi tugas menjadi manager kecil-kecilan band mereka.
Aku menelan kembali kalimat yang sudah ada di ujung lidahku.
'Neal, kan nggak mau mengganggu hubunganmu dengan Rio. Makanya dia menyimpan perasaannya dan hanya mengatakan sama aku saja. Itu pun di malam terakhir dia meninggalkan Jakarta. Aku ingin seperti Neal, Nda. Dia begitu pintar, dewasa, dan cakep! Dia juga mempunyai hati yang baik. Jarang-jarang, lho ada cowok seperti itu. Beruntunglah gadis yang mendapatkan cintanya.' Tony menatapku sambil tersenyum penuh arti. Aku buru-buru menghindari pandangan Tony. Lidahku terasa kelu. Aku merasa terpojok dan bersalah.
Sesaat suasana hening. Hujan sedikit mereda. Beberapa temanku ada yang nekat pulang menembus rintik hujan. Aku mengumpulkan hati untuk memecah kesunyian.
'Misalnya, Ton … misalnya, nih aku jadian dengan Neal, pasti akhirnya akan sama saja. Neal kembali ke negaranya dan meninggalkan aku sendirian. Aku nggak bisa mengisi hari dengan membayangkannya saja, kan? Aku pasti sangat membutuhkan kehadirannya disini, disampingku. Aku hanya bersikap realitas aja, Ton. Aku nggak bisa punya cowok yang jauh dariku. Disaat aku memerlukannya, dia jauh berada di belahan dunia lain dan aku nggak tahu apa yang sedang dilakukannya. Jadi, ada untungnya, kan aku belum pacaran dengan Neal?'
'Belum tentu, Nda,' jawab Tony. Hmm, Tony rupanya mengajakku berdebat.
'Mungkin aku nggak sehebat kamu kalau berargumen. Yang aku tahu, cinta itu sesuatu yang nggak bisa dijelaskan. Yang aku tahu, cinta itu mempunyai kekuatan untuk menyelimuti, menghangatimu dimanapun kamu berada. Andai kamu sekarang pacar Neal, kamu pasti nggak berada disini dengan tampang sendu menatap hujan. Tapi saat ini kamu pasti sedang berteriak kegirangan sambil berjalan di tengah rintik hujan. Karena cinta Neal akan menjadi 'payung’mu.'
Wow! Aku terkesima mendengar kata-kata Tony. Baru kali ini aku kehilangan kata-kata. Juara debat tingkat SMU se-Jakarta dikalahkan Tony yang tadinya menurutku, mungkin dalam kamus hidupnya hanya ada basket dan band! Ternyata …
'Tuh, hujan sudah reda. Aku duluan, yaaa …. mau latihan band, nih. Salam buat Neal, ya …' Tony nggak memberi kesempatan buatku berdalih. Aku menatap sosoknya dari belakang yang memang mirip Neal, kecuali warna rambutnya. Tiba-tiba aku rindu Neal. Rindu biru matanya, bau tubuhnya, rambutnya yang berwarna emas, candanya, … semuanya! Aku rindu menyamai langkah kaki Neal yang lebar nya dua kali langkah kakiku. Ugh, inginnya mengulangi lagi semuanya lagi.
Ah, Neal, … benarkah apa yang kau katakan di email semalam? Malam ini aku akan membalas e-mail Neal. Aku akan menyelesaikan semua keraguan, tanda tanya, dan kepura-puraan yang ternyata percuma dipertahankan. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Lihat Neal… aku sekarang sedang tersenyum berjalan diantara rintik hujan. Rasanya ternyata sangat menyenangkan! Tubuhku memang basah, tapi hatiku tetap hangat. Terima kasih untuk payungnya, Neal.
-santie-

ps.
cerpen ini dimuat di majalah CINTA edisi 09 Januari 2004